Banjarbaru, IndoChannel.id – Presiden Prabowo Subianto hari ini, Senin (12/1/2026), meresmikan program Sekolah Rakyat di Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 9 Banjarbaru, yang berlokasi di lingkungan Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Acara ini menandai peluncuran serentak 166 sekolah rintisan yang telah beroperasi sejak 2025, sebagai upaya strategis pemerintah memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Program Sekolah Rakyat menjadi inisiatif unggulan Presiden Prabowo Subianto dan termasuk dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2025 tentang Optimalisasi Pelaksanaan Pengentasan Kemiskinan dan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem.
“Karena ini bagian dari pengentasan kemiskinan. Anaknya sekolah, keluarganya diberdayakan. Anaknya lulus, keluarganya naik kelas dan menjadi berdaya. Ini istimewa dan ini tentu legacy dari Bapak Presiden Prabowo,” kata Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul).
Menurut Gus Ipul, latar belakang pendirian program ini adalah masih tingginya jumlah anak usia sekolah dari keluarga kurang mampu yang kesulitan mengakses pendidikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lebih dari tiga juta anak berada dalam kondisi tidak sekolah, belum sekolah, putus sekolah, atau berisiko putus sekolah.
Rekrutmen Berbasis Data Sosial Ekonomi, Bukan Tes Akademik
Sekolah Rakyat khusus menyasar anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem di Desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Seleksi siswa tidak melalui ujian akademik, melainkan berdasarkan data DTSEN serta verifikasi langsung ke rumah calon siswa oleh pendamping lapangan.
Pada tahap awal (matrikulasi), setiap siswa mendapatkan Cek Kesehatan Gratis (CKG) serta DNA talent mapping untuk mengidentifikasi kondisi kesehatan dan memetakan bakat serta potensi secara mendalam.
Sudah Menjangkau 15.945 Siswa di 166 Lokasi
Sejak mulai beroperasi secara bertahap pada Juli hingga September 2025, program ini telah membuka 166 lokasi Sekolah Rakyat rintisan di seluruh Indonesia, dengan rincian:
– Sumatera: 35 lokasi
– Jawa: 70 lokasi
– Bali dan Nusa Tenggara: 7 lokasi
– Kalimantan: 13 lokasi
– Sulawesi: 28 lokasi
– Maluku: 7 lokasi
– Papua: 6 lokasi
“Hari Senin (12/1) nanti akan diresmikan atau diluncurkan secara resmi Sekolah Rakyat rintisan di 166 titik,” ujar Gus Ipul.
Hingga Semester Gasal Tahun Ajaran 2025/2026, total 15.945 siswa telah menikmati pendidikan selama satu semester penuh. Ke depan, pemerintah menargetkan ekspansi hingga 500 sekolah, dengan kapasitas masing-masing sekolah mencapai hingga 1.000 siswa.
Serap Ribuan Tenaga Kerja dan Bangun Sekolah Permanen
Program ini juga memberikan dampak ekonomi signifikan dengan menyerap 7.107 tenaga kerja, termasuk 2.218 guru dan 4.889 tenaga kependidikan. Pembangunan sekolah permanen telah dimulai sejak 2025 di 104 lokasi, yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Konsep Boarding School Gratis Penuh dan Kurikulum Inovatif
Sekolah Rakyat menerapkan model sekolah berasrama (boarding school) di mana seluruh kebutuhan siswa—mulai dari seragam, makanan, tempat tinggal, hingga alat tulis—ditanggung 100% oleh negara. Pendekatan ini dipilih untuk membentuk karakter mandiri, disiplin, serta keterampilan hidup selain prestasi akademik.
Kurikulum dirancang khusus dengan sistem Multi Entry–Multi Exit (MEME) dan pendekatan individual. Siswa dapat masuk kapan saja dan belajar sesuai capaian pribadi, bukan terikat kalender ajaran konvensional. Hasil DNA talent mapping menjadi panduan utama pengembangan karakter, keterampilan, dan kecerdasan siswa.
Miniatur Pengentasan Kemiskinan Terintegrasi
Program ini dikoordinasikan Kementerian Sosial bersama berbagai kementerian/lembaga dan pemerintah daerah.

