26 C
Jakarta
Sabtu, 4 Desember 2021
BerandaNewsNasionalJalan Tol di Indonesia Berbahaya? Pakar Transportasi : Berbahaya Jika Kecepatan Melebihi...

Jalan Tol di Indonesia Berbahaya? Pakar Transportasi : Berbahaya Jika Kecepatan Melebihi Batas

- Advertisement -

Surabaya, IndoChannel.id – Tewasnya artis Vanessa Angel dan Bibi Ardiansyah akibat kecelakaan di Tol Jombang mendapat perhatian banyak masyarakat. Kecelakaan ini menimbulkan pertanyaan publik, apakah tol di Indonesia aman?

Pakar Transportasi ITS Surabaya, Ir Hitapriya Suprayitno mengatakan bahwa sejatinya tol di Indonesia itu sudah aman. Ia berujar, tol sengaja dibuat bebas hambatan, tidak ada persimpangan. Jalan tol dibuat supaya lalu lintas tidak terganggu dan bisa berjalan relatif cepat. Sehingga jalan tol tidak ada persimpangan, dan kecepatan diatur 60-100 km/jam.

- Advertisement -

Namun, lanjutnya, jika berkendara di jalan tol dengan kecepatan melebihi batas, seperti 160-180 km/jam bisa membahayakan diri sendiri dan penumpang.

Pasalnya, di tol kadang terasa seperti sedang dalam lintasan balap. Di mana pemilik kendaraan dengan cc besar, kebanyakan melintas dengan kecepatan 160 km/jam. Selain itu, tak hanya mobil dengan cc besar yang melaju cepat, tetapi juga mobil kecil. Kendaraan yang hanya bermuatan empat orang juga seringkali menancapkan gas sampai 140 km/jam.

“Beredar juga katanya jalan tol berbahaya. Jalan tol itu tidak berbahaya, asal batasan-batasan itu dipatuhi. Banyak orang Indonesia sudah diatur ada rambu-rambu. Kalau ikut aturan 120 km/jam misalnya, itu aman, tidak ada masalah. Kalau 160 km/jam sudah terlalu cepat, kepeleset sedikit nabrak, sudah hancur,” jelas Hitapriya, Jumat (5/11/2021).

Hitapriya juga menegaskan, jalan tol di Indonesia memiliki skid resistance pada beton yang digunakan. Skid resistance itu ada permukaan jalan, bukan struktur jalannya, bukan kontruksi jalannya pula.

“Kalau jalan tol dari beton, itu permukaannya bisa dua macam. Bisa dilapisi aspal, rasanya seperti jalan di atas aspal. Contohnya Waru-Juanda, Jalan Lingkar Jakarta. Tapi memang ada beberapa ruas yang jalannya beton itu tidak dilapisi aspal,” ujarnya.

Kemudian Ia mencontohkan gedung berstruktur beton. Di mana ada kolom, tiang, balok, bahkan lantai dari beton. Namun, beton bangunan halus, berbeda dengan jalan tol yang tidak boleh halus.

“Bukan seperti gedung. Permukaan jalan yang digunakan untuk lewat mobil itu diberi garis lubang kecil-kecil. Sehingga ada skid resistance. Jangan dibayangkan seperti beton bangunan yang halus. Dengan sengaja memang dikasarkan. Skid resistance itu dengan sengaja dibuat dan ada aturannya, tidak bisa dibiarkan beton biasa seperti beton alus, dicek dulu,” paparnya.

Hitapriya pun mengungkapkan bahwa jalan tol yang telah selesai dibangun, dicek dulu semuanya oleh Bina Marga. Jika sudah memenuhi syarat, maka bisa dioperasikan.

“Jalan tol ada permukaannya aspal tapi bawahnya bisa struktur beton. Ada yang permukaannya memang beton, harus diberi garis-garis lubang panjang untuk membuat skid resistance. Kalau ada yang bilang jalan tol berbahaya, itu salah. Yang berbahaya karena orang-orang yang kecepatannya melebihi kecepatan izin,” terangnya.

Sementara itu, pembatas dinding beton tebal bisa berbahaya jika pengendara melaju dengan kecepatan melebihi batas. Sebab, saat mengantuk atau oleng dengan kecepatan di atas 150 km/jam, bisa menabrak pembatas beton dan berakibat fatal.

“Kalau ngantuk istirahat, pokok enak, ga ngantuk, walaupun 120 km/jam meskipun melanggar sebetulnya belum berbahaya. Kalau 150-160 km/jam sudah berbahaya. Yang salah bukan jalan tolnya, yang salah orangnya. Kalau nyetir di jalan tol sepi, panas, lurus itu cepat ngantuk. Istirahat saja dulu sebentar,” pungkasnya.

 

Latest news

Related news

- Advertisement -