25.1 C
Jakarta
Senin, 20 September 2021
BerandaShowbizBosan Saat HUT RI Ke 76 di Tengah Pandemi Covid-19? Jangan Khawatir,...

Bosan Saat HUT RI Ke 76 di Tengah Pandemi Covid-19? Jangan Khawatir, Tonton Film Perjuangan Ini

- Advertisement -

Jakarta, IndoChannel.id – Hari Ulang Tahun Indonesia Ke 76 akan segera tiba. Dari tahun ke tahun, masyarakat Indonesia sangat antusias dalam menyambut HUT RI. Dari mengikuti Upacara Kemerdekaan hingga ikut berpartisipasi dalam berbagai perlombaan.

Tahun ini akan terasa berbeda karena masyarakat harus merayakan HUT RI di tengah pandemi Covid-19.

- Advertisement -

Namun, tak perlu khawatir, jika Anda merasa bosan harus berdiam diri di rumah saja. Ada baiknya Anda menonton film perjuangan bersama keluarga.

Berikut rekomendasi film bertemakan perjuangan kemerdekaan Indonesia:

  1. Soekarno: Indonesia Merdeka (2013)

Soekarno, Indonesia Merdeka
Soekarno, Indonesia Merdeka

Soekarno awalnya diberi nama Kusno. Namun, nama itu diganti karena kondisinya sering sakit. Besar harapan, Soekarno (Ario Bayu) menjelma menjadi kesatria dalam pewayangan, layaknya tokoh Adipati Karno.

Harapan bapaknya terpenuhi, umur 24 tahun Soekarno berhasil mengguncang podium, berteriak: Kita Harus Merdeka Sekarang!!! Akibatnya, dia harus dipenjara, dituduh menghasut dan memberontak.

Namun, keberanian Soekarno tidak pernah padam. Pleidoinya yang sangat terkenal, ‘Indonesia Menggugat’, mengantarkannya ke pembuangan di Ende, lalu ke Bengkulu.

Di Bengkulu, Soekarno istirahat sejenak dari politik. Hatinya tertambat pada gadis muda bernama Fatmawati (Ratu Tika Bravani). Padahal, Soekarno masih menjadi suami Inggit Garnasih (Maudy Kusnaedi), perempuan yang lebih tua 12 tahun dan selalu menjadi perisai baginya ketika dipenjara maupun dalam pengasingan.

Kini, Inggit harus rela melihat sang suami jatuh cinta. Di tengah kemelut rumah tangganya, Jepang datang mengobarkan perang Asia Timur Raya. Berahi politik Soekarno kembali bergelora.

Hatta (Lukman Sardi) dan Sjahrir (Tanta Ginting), rival politik Soekarno, mengingatkan bahwa Jepang tidak kalah bengisnya dibanding Belanda. Tapi Soekarno punya keyakinan, jika dikawan dengan cerdik, maka Jepang bisa dimanfaatkan untuk meraih kemerdekaan.

Hatta terpengaruh, tetapi Sjahrir tidak. Kelompok pemuda progresif pengikut Sjahrir bahkan mencemooh Soekarno-Hatta sebagai kolaborator. Keyakinan Soekarno tak goyah.

  1. Kartini (2017)

Film Kartini
Film Kartini

Film ini adalah kisah nyata perjuangan Kartini, pahlawan wanita yang paling populer di Indonesia. Di Indonesia awal tahun 1900 Masehi, wanita tidak diperbolehkan memperoleh pendidikan tinggi, bahkan untuk para Ningrat sekalipun.

Wanita Ningrat Jawa saat itu hanya diharapkan menjadi Raden Ayu dan menikah dengan seorang pria Ningrat. Kartini (Dian Sastrowardoyo) tumbuh dengan melihat langsung bagaimana Ibu Kandungnya, Ngasirah (Christine Hakim) menjadi orang terbuang di rumahnya sendiri, diangggap pembantu hanya karena tidak mempunyai darah Ningrat.

Ayahnya, Raden Sosroningrat (Deddy Sutomo), yang mencintai Kartini dan keluarganya juga tidak berdaya melawan tradisi saat itu. Kartini berjuang sepanjang hidupnya untuk memperjuangkan kesetaraan hak bagi semua orang, serta hak pendidikan bagi semua orang, terutama untuk perempuan.

Bersama kedua saudarinya, Roekmini (Acha Septriasa) dan Kardinah (Ayushita), Kartini membuat sekolah untuk kaum miskin dan menciptakan lapangan kerja untuk rakyat di Jepara dan sekitarnya.

Film Kartini adalah perjalanan penuh emosional dari sosok Kartini yang harus melawan tradisi yang dianggap sacral, bahkan menentang keluarganya sendiri untuk memperjuangkan kesetaraan hak untuk semua orang di Indonesia.

  1. Guru Bangsa Tjokroaminoto (2015)

Guru Bangsa Tjokroaminoto
Guru Bangsa Tjokroaminoto

Pak Tjokro (Reza Rahardian) lahir di Madiun, Jawa Timur pada tahun 1882, ia merupakan bangsawan Jawa. Sejak kecilTjokro sudah dididik oleh kakeknya dengan berbagai macam cerita perjuangan dan paham-paham Islami.

Saat menginjak usia dewasa, orang tuanya menginginkan ia bekerja pada Belanda karena ayahnya pernah menjabat menjadi pegawai kolonial. Namun, dari kecil Tjokro hiperakitf dan kritis, ia sangat menolak untuk bekerja dengan orang kolonial.

Saat ke Semarang, Tjokro bertemu dengan tokoh bernama Ibrahim (Egi Fedly) yang menginformasikan bahwa, jika ingin belajar banyak mengenai realitas sosial rakyat kecil, Tjokro harus datang ke Surabaya.

Tiba di Surabaya, dia disambut hangat oleh banyak tokoh daerah di sana. Tjokro pun diajak melihat banyak buruh yang dipekerjakan paksa oleh Belanda. Dia lantas berpikir, bagaimana jika para tokoh daerah ini bekerja sama dengannya membentuk organisasi dagang yang besar.

Awalnya di Surabaya akan dibuat organisasi besar bernama SDI (Sarekat Dagang Islam) yang sebelumnya sudah dibentuk oleh Haji Samanhoedi di Solo. Utusan Samanhoedi ingin mengambil seorang tokoh penting yang nantinya akan dipilih menjadi pemimpin SDI di Surabaya. Hasilnya, Tjokro terpilih berdasarkan musyawarah.

Pada tahun 1912, SDI berubah menjadi SI (Sarekat Islam), jangkauannya diperluas Tjokro banyak melakukan orasi mengenai kesejahteraan rakyat pribumi. Dalam beberapa bulan, setelah ia gencar melakukan orasi dan kongres, anggota SI akhirnya bertambah sekitar dua juta orang.

Anggotanya bukan hanya dari kalangan atas, namun wong cilik. Bagaimanakah kelanjutan perjuangan Tjokro melawan para kolonial Belanda?

  1. Battle of Surabaya (2015)

Battle of Surabaya
Battle of Surabaya

Film animasi ini menceritakan petualangan Musa, remaja tukang semir sepatu yang menjadi kurir bagi perjuangan pejuang arek-arek Suroboyo dan TKR dalam peristiwa pertempuran dahsyat 10 November 1945 di Surabaya. Cerita dibuka dengan dahsyatnya pengeboman kota Hiroshima oleh sekutu yang menandakan menyerahnya Jepang.

Tetapi, langit Surabaya kembali merah dengan peristiwa Insiden Bendera dan kedatangan sekutu yang ditumpangi oleh Belanda. Belum lagi gangguan oleh beberapa kelompok pemuda Kipas Hitam yang dilawan oleh Pemuda Republiken. Residen Sudirman, Gubernur Suryo, Pak Moestopo, Bung Tomo dan tokoh-tokoh lain yang membangkitkan semangat arek-arek Suroboyo & pemuda Indonesia melawan penjajahan.

Musa dipercaya sebagai kurir surat dan kode-kode rahasia yang dikombinasikan dengan lagu-lagu keroncong dari Radio Pemberontakan Rakyat Indonesia yang didirikan Bung Tomo. Berbagai peristiwa dilalui Musa sebagai kurir, kehilangan harta dan orang-orang yang dikasihi menjadi konsekuensi tugas mulia tersebut.

  1. Merah Putih (2009)

Merah Putih
Merah Putih

Setelah merdeka, ternyata Indonesia masih harus melawan Belanda. Pada tahun 1947, para pemuda dari berbagai latar belakang suku berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari serangan Belanda.

Film ini disutradarai oleh Yadi Sugandi  dan Pemerannya adalah Lukman Sardi, Teuku Rifnu Wikana, Doni Alamsyah, Darius Sinathrya, Zumi Zola, Rahayu Saraswati, dan Astri Nurdin.

Merah Putih merupakan film pertama dari sebuah trilogi. Film kedua dan ketiga yaitu Darah Garuda dan Hati Merdeka.

  1. Darah Garuda (2010)

Darah Garuda
Darah Garuda

Film ini disutradarai oleh Yadi Sugandi dan Conor Allyn. Adapun pemerannya adalah Donny Alamsyah, Lukman Sardi, Teuku Rifnu Wikana, Darius Sinathrya, Rahayu Saraswati, Atiqah Hasiholan, Astri Nurdin, Ario Bayu, Rudy Wowor, dan Aldy Zulfikar.

Darah Garuda rilis satu tahun setelah film pertama rilis. Kali ini, empat sekawan, Amir (Lukman Sardi), Tomas (Donny Alamsyah), Dayan (Teuku Rifnu), dan Marius (Darius Sinathrya) bertemu dengan kelompok gerilyawan lainnya.

Kecurigaan mulai timbul karena kelompok tersebut berbeda pendapat. Konflik makin menajam saat terbukti ada pengkhianatan di antara mereka. Medan pertempuran bergeser dari Jawa Tengah ke Jawa Barat.

  1. Hati Merdeka (2011)

Hati Merdeka
Hati Merdeka

Merupakan kelanjutan dari film sebelumnya dengan judul Merah Putih dan Darah Garuda. Hati merdeka menceritakan kejadian setelah menyelesaikan misi yang berakhir tragis dengan kehilangan anggota kelompok empat sekawan.

Kesetiaan kelompok ini kembali diuji dengan mundurnya pimpinan mereka, Amir (Lukman Sardi) dari Angkatan Darat. Tanpa pemimpin dan dengan dirundung, para kadet membawa dendam mereka dalam perjalanan misi mereka ke Bali untuk membalas dendam kepada Belanda.

Mereka dikirim ke Bali untuk membunuh Kolonel Raymer (Michael Bell, aktor berbakat dari Inggris yang meninggal April lalu), yang telah membunuh keluarga Tomas (Donny Alamsyah) di awal trilogi ini.

Tomas telah dipilih sebagai pemimpin baru dari kelompok kadet ini. Menghadapi meriam kapal perang Belanda, Marius yang playboy dan peminum (Darius Sinathrya) harus mengatasi rasa takutnya karena persaingannya dengan Tomas untuk memperebutkan Senja, seorang gadis berdarah biru (Rahayu Saraswati).

Sesampainya di Bali, kelompok taruna ini menyelamatkan Dayu (Ranggani Puspandya) dari kekejaman kelompok milisi KNIL Kolonel Raymer, tetapi salah satu dari kelompok kadet ini hampir saja mati terbunuh. Saat teman mereka sedang berjuang antara hidup dan mati, kelompok kadet ini bertemu dengan pemimpin pemberontak bawah tanah Wayan Suta (Nugie).

Tomas bentrok dengan pimpinan mereka terdahulu, Amir (Lukman Sardi) saat mereka merencanakan serangan terakhir untuk melawan milisi Raymer yang menimbulkan pertanyaan: Sejauh mana revolusi ini bisa menghancurkan kejahatan dan tetap mempertahankan idealismenya?

Latest news

Related news

- Advertisement -