26.7 C
Jakarta
Sabtu, 27 Juni 2026
BerandaNewsSiapkan Gen Z Hadapi 2045, Regulasi Digital Tak Bisa Ditawar

Siapkan Gen Z Hadapi 2045, Regulasi Digital Tak Bisa Ditawar

- Advertisement -

Jakarta, IndoChannel.id — Urgensi penguatan regulasi digital kembali ditegaskan dalam upaya menyiapkan Generasi Z menghadapi era Society 5.0 sekaligus menyongsong Indonesia Emas 2045. Tanpa kerangka hukum yang jelas, pemanfaatan teknologi dinilai berisiko melenceng dan tidak optimal bagi masyarakat.

Isu ini mengemuka dalam Gen-Z Summit Society 5.0 yang berlangsung di BINUS International FX Sudirman, Jakarta, pada 26 Juni 2026. Forum tersebut menyoroti bagaimana teknologi dan regulasi harus berjalan beriringan untuk menciptakan ekosistem digital yang sehat.

- Advertisement -

Guru Besar Universitas Kristen Indonesia (UKI), Aarce Tehupeiory, menekankan bahwa regulasi memiliki fungsi vital sebagai pengarah dalam pemanfaatan teknologi.

“Regulasi bukan untuk membatasi, tetapi untuk mengarahkan agar teknologi digunakan secara bertanggung jawab dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat,” katanya kepada wartawan.

Gen Z Jadi Penentu Arah Indonesia

Dalam konteks jangka panjang, Generasi Z yang lahir pada 1997–2012 diproyeksikan akan mendominasi usia produktif pada 2045. Posisi ini menjadikan mereka sebagai aktor utama dalam menentukan arah pembangunan nasional.

Di era Society 5.0, teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), big data, dan robotika menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, teknologi tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan harus ditopang oleh sistem regulasi yang kuat.

Menurut Aarce, regulasi berfungsi menjaga keseimbangan antara inovasi dan perlindungan masyarakat, termasuk dalam hal keamanan data dan etika digital.

“Tanpa regulasi yang kuat, pemanfaatan teknologi bisa melenceng dan berpotensi merugikan masyarakat,” jelasnya.

Integrasi Teknologi Kian Masif

Perkembangan Society 5.0 ditandai dengan semakin menyatunya ruang fisik dan digital. Transformasi ini terlihat dari berkembangnya konsep smart city, e-government, hingga ekonomi digital.

Dalam situasi tersebut, Generasi Z dinilai memiliki keunggulan karena terbiasa hidup di tengah ekosistem digital. Mereka adaptif, kreatif, dan memiliki kemampuan teknologi yang relatif tinggi dibanding generasi sebelumnya.

Namun, keunggulan itu tetap harus diimbangi dengan pemahaman hukum dan etika agar tidak menimbulkan dampak negatif.

Regulasi dan Pendidikan Harus Sejalan

Penguatan regulasi tidak hanya berhenti pada aspek perlindungan hukum, tetapi juga perlu diintegrasikan dalam sistem pendidikan. Penyesuaian kurikulum dinilai penting untuk menjawab kebutuhan industri masa depan.

Bidang seperti coding, data science, dan keamanan siber menjadi kompetensi yang harus dikuasai. Di sisi lain, literasi digital dan literasi hukum juga perlu diperkuat agar generasi muda mampu menggunakan teknologi secara bijak.

Peluang Besar, Risiko Tetap Ada

Regulasi digital membawa sejumlah manfaat, mulai dari perlindungan data pribadi hingga peningkatan keamanan transaksi digital. Selain itu, regulasi juga berperan dalam menekan kejahatan siber yang semakin kompleks.

Meski demikian, penerapan regulasi yang tidak tepat dapat berdampak sebaliknya. Pembatasan berlebihan berpotensi menghambat kreativitas, memperlambat pertumbuhan startup, hingga membatasi ruang berekspresi.

Tantangan Nyata Generasi Z

Di tengah perkembangan teknologi, Generasi Z menghadapi tantangan yang tidak ringan. Dari dalam, muncul persoalan seperti kecanduan media sosial dan rendahnya literasi digital di sebagian kelompok. Dari luar, kesenjangan akses teknologi dan ancaman siber masih menjadi pekerjaan rumah.

Untuk menjawab tantangan tersebut, penguatan literasi digital, literasi hukum, serta pemahaman teknologi menjadi langkah strategis.

“Generasi muda harus dibekali tidak hanya kemampuan teknis, tetapi juga etika dan tanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi,” tegas Aarce.

Kunci: Seimbang antara Inovasi dan Regulasi

Ke depan, Generasi Z diharapkan mampu menjadi motor inovasi, baik sebagai talenta digital, wirausaha, maupun pemimpin masa depan. Namun, semua itu membutuhkan dukungan regulasi yang adaptif.

Aarce menilai keseimbangan menjadi kata kunci agar kemajuan teknologi tidak justru terhambat oleh aturan yang kaku.

“Regulasi harus mampu melindungi tanpa menghambat inovasi. Di situlah pentingnya kebijakan yang adaptif dan berimbang,” ujarnya.

Dengan sinergi antara regulasi yang kuat dan kesiapan Generasi Z, peluang Indonesia untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045 dinilai semakin terbuka lebar. (Nono)

Latest news

Related news

- Advertisement -