32.8 C
Jakarta
Sabtu, 9 Mei 2026
BerandaNewsCadangan Devisa RI Susut ke Level Terendah sejak Juli 2024, BI Kebut...

Cadangan Devisa RI Susut ke Level Terendah sejak Juli 2024, BI Kebut Stabilkan Rupiah

- Advertisement -

Jakarta, IndoChannel.id – Cadangan devisa Indonesia kembali tergerus pada April 2026 di tengah tekanan berat terhadap nilai tukar rupiah. Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa turun menjadi 146,2 miliar dolar AS pada akhir April, menyusut 2 miliar dolar AS dibandingkan Maret yang berada di level 148,2 miliar dolar AS.

Penurunan tersebut menjadi level terendah sejak Juli 2024 sekaligus memperpanjang tren pelemahan cadangan devisa sejak awal tahun. Dalam lima bulan terakhir, Bank Indonesia tercatat telah menguras lebih dari 10 miliar dolar AS untuk menjaga stabilitas rupiah yang sempat menyentuh rekor terendah sepanjang sejarah.

- Advertisement -

Sejak Januari 2026, posisi cadangan devisa terus mengalami penurunan. Dari 154,6 miliar dolar AS pada Januari, turun menjadi 151,9 miliar dolar AS pada Februari, lalu 148,2 miliar dolar AS pada Maret, hingga akhirnya berada di posisi 146,2 miliar dolar AS pada April. Padahal pada Desember 2025, cadangan devisa Indonesia masih berada di level 156,5 miliar dolar AS.

Tekanan terhadap cadangan devisa dipicu kombinasi pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah agresif Bank Indonesia melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menahan pelemahan rupiah.

Bank sentral menjalankan strategi yang dikenal sebagai “triple intervention” atau intervensi tiga jalur. Strategi itu dilakukan melalui operasi simultan di pasar spot, pasar non-deliverable forward (NDF) luar negeri, serta pasar NDF domestik.

Tak hanya itu, Bank Indonesia juga aktif membeli surat berharga negara di pasar sekunder untuk menjaga stabilitas pasar keuangan. Hingga awal Mei 2026, pembelian SBN di pasar sekunder tercatat mencapai Rp123,1 triliun secara kumulatif.

Meski intervensi dilakukan secara agresif, tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda. Mata uang Garuda sempat menyentuh level 17.422 per dolar AS pada 5 Mei 2026, menjadi titik terlemah sepanjang sejarah berdasarkan data Bloomberg.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyebut kondisi rupiah saat ini sebenarnya tidak mencerminkan fundamental ekonomi nasional. Dalam laporannya kepada Presiden Prabowo Subianto, Perry menilai rupiah berada dalam kondisi “undervalued”.

Ia menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat, ditopang pertumbuhan ekonomi 5,61 persen dan inflasi yang tetap terkendali.

Reuters sebelumnya melaporkan Bank Indonesia akan melakukan “intervensi besar” untuk meredam gejolak rupiah. Perry juga memastikan cadangan devisa Indonesia masih memadai untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan memenuhi kebutuhan eksternal negara.

Sebagai bagian dari pengendalian pasar valas, Bank Indonesia turut memperketat pembelian dolar AS oleh individu. Batas pembelian devisa diturunkan dari sebelumnya 100 ribu dolar AS menjadi 50 ribu dolar AS per bulan.

Tekanan terhadap rupiah dan cadangan devisa tidak hanya berasal dari faktor domestik. Tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat, ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak, serta meningkatnya sikap hati-hati investor global terhadap aset berisiko turut memperbesar tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Meski demikian, Bank Indonesia menegaskan posisi cadangan devisa saat ini masih berada di level aman. Cadangan tersebut dinilai cukup untuk membiayai kebutuhan impor sekitar enam bulan atau jauh di atas standar kecukupan internasional yang berada di kisaran tiga bulan impor.

Namun, tantangan ke depan diperkirakan tetap berat. Ketahanan cadangan devisa Indonesia akan sangat bergantung pada durasi tekanan global dan seberapa agresif Bank Indonesia harus terus turun tangan di pasar untuk mempertahankan stabilitas rupiah.

 

Latest news

Related news

- Advertisement -