Washington, IndoChannel.id – Pemerintahan Presiden Donald Trump telah menyelesaikan transaksi penjualan pertama minyak mentah Venezuela senilai US$500 juta, setara sekitar Rp8,45 triliun dengan kurs Rp16.890 per dolar AS. Langkah ini menjadi tonggak awal komersialisasi aset energi Venezuela oleh Amerika Serikat, menyusul operasi militer yang berhasil menangkap Presiden Nicolás Maduro pada 3 Januari 2026.
Seorang pejabat senior pemerintahan AS mengonfirmasi kepada CNN bahwa penjualan perdana tersebut telah rampung. Transaksi tambahan diperkirakan akan menyusul dalam beberapa hari hingga pekan mendatang. Dana hasil penjualan ditempatkan dalam rekening yang dikendalikan pemerintah AS, termasuk sebagian disimpan di bank di Qatar guna memastikan netralitas aliran dana.
Juru Bicara Gedung Putih, Taylor Rogers, menyatakan dalam pernyataan resmi bahwa tim Presiden Trump tengah memfasilitasi diskusi positif dan berkelanjutan dengan perusahaan-perusahaan minyak yang siap melakukan investasi besar guna memulihkan infrastruktur energi Venezuela.
Sebelumnya, Reuters melaporkan bahwa minyak Venezuela kini ditawarkan dengan harga lebih kompetitif, bahkan hingga 30 persen lebih tinggi dibandingkan harga yang diperoleh rezim sebelumnya, menurut Menteri Energi AS, Chris Wright. Kondisi ini terjadi setelah pengalihan pasokan yang sebelumnya sebagian besar mengalir ke China.
Venezuela tercatat memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, mencapai 303 miliar barel atau sekitar 17 persen dari cadangan global, berdasarkan data Badan Informasi Energi AS (EIA). Jumlah ini melampaui Arab Saudi dengan 267 miliar barel, Iran 209 miliar barel, dan Irak 145 miliar barel. Sebagai anggota pendiri OPEC, Venezuela memiliki potensi besar, namun infrastrukturnya mengalami kerusakan parah akibat sanksi jangka panjang dan pengelolaan yang buruk.
Presiden Trump sebelumnya menjanjikan investasi besar dari sektor swasta AS, termasuk minimal US$100 miliar untuk rekonstruksi sektor energi Venezuela. Namun, rencana tersebut mendapat respons dingin dari para eksekutif perusahaan minyak besar.
CEO ExxonMobil, Darren Woods, menyatakan secara tegas dalam pertemuan di Gedung Putih, “Ini tidak layak untuk investasi.” Ia menambahkan bahwa masih terdapat berbagai kerangka hukum dan komersial yang harus ditetapkan untuk memahami potensi keuntungan dari investasi tersebut.
Sejumlah petinggi perusahaan energi AS lainnya juga menunjukkan keraguan serupa, dengan alasan ketidakpastian hukum, risiko politik, serta sejarah sengketa bisnis di Venezuela. Pertemuan panjang dengan Presiden Trump dan jajaran stafnya pun berakhir tanpa komitmen investasi konkret dari ExxonMobil maupun perusahaan energi besar lainnya.
Penjualan minyak ini merupakan bagian dari kesepakatan energi yang lebih luas, di mana Amerika Serikat mengendalikan pemasaran hingga 50 juta barel minyak Venezuela yang sebelumnya terhambat akibat blokade dan sanksi. Proses tersebut diharapkan berjalan berkelanjutan untuk menghasilkan pendapatan bagi kepentingan rakyat AS dan Venezuela, sekaligus mengurangi pengaruh China di pasar energi Amerika Latin.
Perkembangan ini terus menjadi sorotan pasar global karena berpotensi mengubah dinamika pasokan minyak dunia, harga komoditas, serta keseimbangan geopolitik di kawasan.

