32.9 C
Jakarta
Sabtu, 23 Oktober 2021
BerandaNewsPPKM Longgar, Okupansi Sektor Hotel dan Wisata Mulai Mengeliat

PPKM Longgar, Okupansi Sektor Hotel dan Wisata Mulai Mengeliat

- Advertisement -

Jakarta, IndoChannel.id – Penerapan PPKM Jawa Bali berdampak pada sektor Periwisata. Pemerintah berupaya meningkatkan disektor wisata dan hotel.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengatakan meskipun okupansi atau tingkat keterisian kamar rata-rata hotel di Bali masih menyentuh angka terendah sekitar 10 persen pada periode Juli-Agustus 2021.

- Advertisement -

“Penurunan tingkat hunian kamar hotel ini di bulan Juli dan Agustus menyerupai periode yang terjadi Maret sampai Juli tahun 2020, yaitu tingkat hunian menyentuh angka terendah untuk di Bali mencapai 10 persen,” kata Sandiaga belum lama ini.

Namun, kondisi berbeda di wilayah Jawa Tengah, Khususnya di Semarang. Tingkat okupansi hotel pasca pelonggaran selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sektor perhotelan dan wisata mulai menggeliat.

Salah satunya keterisian tempat tidur hotel atau okupansi di beberapa daerah, tidak terkecuali seluruh unit hotel di bawah pengelolaan PT Dafam Hotel Management yang merupakan entitas anak perusahaan dari PT Dafam Property Indonesia Tbk.

Dimasa pandemi covid-19, Dafam memproyeksikan okupansi hotel dapat mencapai 70% di tahun 2021 ini, sampai dengan semester pertama tahun 2021 Dafam mencatatkan rata-rata okupansi hotel sebesar 55,91%.

Segmen pasar online masih mendominasi okupansi Dafam, kenaikan okupansi hotel disebabkan oleh beberapa kemudahan yang diantaranya adalah diturunkanya harga PCR sehingga memudahkan banyak orang yang menggunakan transportasi Pesawat. Serta, kemudahan akses masyarakat yang menggunakan transportasi darat dari luar kota menuju dalam kota.

“Kami sangat optimis mengingat penurunan level PPKM ini berdampak positif, pertumbuhan ekonomi dari sektor perhotelan dan pariwisata yang sempat terpuruk akibat pandemi covid-19,” ungkap MBA Director PT Dafam Property Indonesia, Andhy Irawan.

Selain di Semarang, tingkat keterisian atau okupansi hotel di Provinsi Sulawesi Tengah mulai mengalami peningkatan seiring pelonggaran kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di seluruh daerah di provinsi itu. Okupansi meningkat menjadi antara 30 sampai 40 persen dibanding bulan lalu yang berkisar hanya 20 persen.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulteng Fery Taula mengatakan okupansi hotel baik yang tergabung dalam keanggotaan PHRI maupun tidak di Sulteng mulai menunjukkan kenaikan pada pertengahan bulan Agustus. Umumnya warga yang berdomisili di Sulteng yang mengisi kamar-kamar hotel tersebut.

“Masih banyak pekerja hotel dan restoran yang dirumahkan. Jika omset hotel dan restoran tempat mereka bekerja kembali naik dan pulih pasti mereka kembali dipekerjakan,” tutupnya.

Latest news

Related news

- Advertisement -