32.9 C
Jakarta
Sabtu, 23 Oktober 2021
BerandaNewsFocus Group Discussion (FGD) dengan Tema "Pemuda dan Ekstremisme Beragama"

Focus Group Discussion (FGD) dengan Tema “Pemuda dan Ekstremisme Beragama”

- Advertisement -

Yogyakarta, IndoChannel.id – Cangkir Opini bersama Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Yogyakarta dana DPD IMM Jawa Timur menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Pemuda dan Ekstremisme Beragama”.

FGD ini diadakan secara protokol kesehatan (prokes) di Sagan Heritage Hotel Yogyakarta, Senin (30/08/2021) dengan diikuti puluhan peserta dari kalangan pemuda lokal dan mahasiswa Yogyakarta.

- Advertisement -

Turut hadir narasumber berkompeten sebagai pemantik baik dari akademisi maupun mantan narapidana teroris (napiter).

Mereka ialah Nasir Abbas (mantan napiter alumni Afganistan), Subhan Setowara, M.A. (Direktur Eksekutif RBC Institute A. Malik Fadjar), dan Mu’arif (Sejarawan Muhammadiyah).

Mantan napiter alumni Afghanistan, Nasir Abbas menceritakan tentang bagaimana awal mula serta perjalanannya mejadi teroris di berbagai negara.

“Dari umur 15 tahun saya sudah ke Afghanistan dengan niat untuk melanjutkan pendidikan, namun karena tidak memiliki ijazah pada akhirnya saya masuk NII, dan dari situ awal mula saya mengenal dengan gerakan terorisme dan ekstrimisme”, ceritanya.

Sedangkan Direktur Eksekutif RBC Institute A. Malik Fadjar, Subhan Setowara memaparkan tentang Taliban 2.0, dimana Taliban pada hari ini lebih lihai dalam memprofilkan diri.

“Taliban 2.0 melakukan rebranding via Twitter dan konten media sosial lainnya dengan menunjukkan ciri kekinian. Setelah memasuki Kabul misalnya, para militan Taliban lantas memosting video dan foto yang menampilkan para pejuang mereka sebagai sosok orang biasa yang mudah didekati”, paparnya.

Lebih lanjut Subhan, menjelaskan bahwa gerakan ekstrimisme pada hari ini makin kekinian, bahwa pada hari ini gerakan teror yang disasar adalah kau muda, lantaran rasa ingin tahu tinggi, sehingga sumber yang diambil dari sumber-sumber yang kredibilitasnya masih dipertanyakan.

Sejarawan Muhammadiyah, Mu’arif menjelaskan tentang konsep dasar moderasi dalam beragama dalam perspektif sejarah.

“Fakta-fakta historis menunjukkan bahwa kekerasan dengan mengatasnamakan agama sudah terjadi sejak zaman Sahabat Nabi, biasanya dilatarbelakangi oleh politik”, jelasnya.

Direktur Eksekutif Cangkir Opini, Zaki Ma’ruf menjelaskan, bahwa agenda ini dikonsep lebih aktif dan interaktif agar peserta dapat lebih aktif dalam berdiskusi dan tidak satu arah.

“Agenda ini di awali dengan dialog tentang ekstrimisme dalam beragama, dan akan dilanjutkan dengan diskusi per kelompok yang nantinya akan melahirkan sebuah narasi dan gerakan dalam menyuarakan moderasi beragama”, jelasnya.

Lebih lanjut, Zaki mengungkapkan bahwa kegiatan ini dilaksanakan untuk merespon berbagai isu terorisme yang akhir-akhir ini meresahkan masyarakat Indonesia.

“FGD ini bertujuan untuk menumbuhkan kepedulian mahasiswa dan pemuda serta masyarakat pada umumnya terhadap isu terorisme dan ekstrimisme dalam beragama, serta menawarkan cara pandang agama yang moderat (wasathiyah)”, ungkapnya.

Ketua Umum DPD IMM DIY, M. Akmal Ahsan dalam sambutannya menyampaikan, bahwa selain agenda kerjasama dialog dan FGD ini, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) juga sedang fokus dalam sebuah Gerakan kemanusiaan yang bernama #JogjaBangkit .

“#JogjaBangkit adalah wujud pergerakan untuk merespon pandemi. Gerakan ini setidaknya menyasar warga Isolasi Mandiri, pedagang terdampak, dan masyarakat marginal. Hingga hari ini ratusan sembako dan nasi bungkus telah didistribusikan kepada masyarakat dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa waktu mendatang”, katanya.

Latest news

Related news

- Advertisement -