25.4 C
Jakarta
Minggu, 20 Juni 2021
BerandaFinanceTa’aruf dengan Bank Syariah

Ta’aruf dengan Bank Syariah

- Advertisement -

Jakarta, IndoChannel.id – Kata bank merupakan hal yang tidak lagi asing di telinga masyarakat. Hampir di setiap kota hingga pelosok negeri masyarakat bisa menemukan bank. Terlebih lagi pelaku bisnis sudah dipastikan tidak akan bisa terlepas dari yang namanya bank.

Kebutuhan akan jasa perbankan dalam berbagai transaksi sudah tidak dapat dihindarkan lagi. Keberadaan jasa perbankan faktanya sangat banyak memberikan kemudahan dalam lalu lintas pembayaran masyarakat, baik itu jasa transfer, cek, giro, hingga untuk kepentingan investasi.

- Advertisement -

Secara global, keberadaan bank tidak dapat dipisahkan dari setiap negara. Kehadiran bank bisa menjadi salah satu indikator kemajuan ekonomi suatu negara. Sebab bank menyediakan dana untuk pelaku ekonomi dan menawarkan jasa untuk menerima investasi dari masyarakat.

Di Indonesia sendiri, sistem perbankan menganut sistem ekonomi kapitalis, yang sudah pasti memakai prinsip bunga. Sejak dulu sudah terjadi polemik di kalangan masyarkat tentang hukum bunga dalam bank.

Banyak yang berpendapat bunga merupakan riba yang tentu dilarang dalam Islam, sementara tidak sedikit yang beranggapan bunga belum tentu termasuk riba. Perbedaan pemikiran ini memunculkan jalan alternatif sebagai penengah diantara keduanya.

Bank Syariah dianggap sebagai solusi atas perbedaan pandangan ini. Meskipun masih banyak yang meragukan “ke-syariah-an” bank syariah, tidak dapat dipungkiri perkembangan bank syariah mengalami lonjakan yang cukup signifikan.

Namun faktanya, tidak sedikit masyarakat yang masih berasumsi bahwa bank syariah tidak memiliki perbedaan yang berarti dengan bank konvensional.

Kata “syariah” dianggap hanya sebagai label untuk jualan. Bank syariah dianggap juga mengeruk keuntungan yang serupa dengan bank konvensional, sehingga tak ada bedanya. Oleh sebab itu, edukasi dan sosialisasi yang baik sangat diperlukan khususnya bagi masyarkat awam agar asumsi ini tidak berkembang semakin “liar”.

Berdasarkan UU No 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah mengatakan bahwa Bank Syariah adalah bank yang menjalankan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah, atau prinsip hukum islam yang diatur dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia seperti prinsip keadilan dan keseimbangan (‘adl wa tawazun), kemaslahatan (maslahah), universalisme (alamiyah), serta tidak mengandung gharar, maysir, riba, zalim dan obyek yang haram.

Selain itu, UU Perbankan Syariah juga mengamanahkan bank syariah untuk menjalankan fungsi sosial dengan menjalankan fungsi seperti lembaga baitul mal, yaitu menerima dana yang berasal dari zakat, infak, sedekah, hibah, atau dana sosial lainnya dan menyalurkannya kepada pengelola wakaf (nazhir) sesuai kehendak pemberi wakaf (wakif).

Selain itu, bank syariah disebut juga dengan lembaga intermediasi, yaitu sebagai perantara antara masyarakat yang surplus dana dengan masyarakat yang defisit dana. Artinya bank syariah memiliki peran menghimpun dana dari masyarakat yang kelebihan dana (baik menggunakan produk Tabungan, Deposito, ataupun Giro) dengan masyarakat yang membutuhkan dana (menggunakan berbagai jenis Pembiayaan seperti Kerjasama Bagi, Hasil, Jual Beli, Sewa, dsb) berdasarkan prinsip syariah.

Secara falsafah, kehadiran bank syariah didasari dari keyakinan umat Islam tentang segala sesuatu yang ada di muka bumi merupakan suatu amanah dari Allah SWT. Untuk menjalankan amanah ini, Allah memberikan tiga hal pokok yang menjadi aturan hidup manusia sebagai khalifah di muka bumi melalui Rasul-Nya yaitu Aqidah, Akhlak, dan Syariah.

Aqidah dan Akhlak merupakan hal tidak akan berubah dari masa ke masa, dari nabi Adam hingga hari ini. Sementara Syariat akan berjalan sesuai dengan perkembangan zaman, namun tetap terjaga dari penyimpangan Aqidah maupun Akhlak.

Syariat yang dibawa Rasul terakhir Muhammad SAW merupakan syariat yang paling sempurna. Tidak hanya komprehensif, tapi juga universal. Syariat yang dibawa oleh Muhammad sebagai utusan Allah merupakan syariat yang lengkap dan berguna bagi setiap sendi kehidupan. Komprehensif mencakup aspek ritual dan sosial manusia yaitu ibadah dan muamalah.

Ibadah bertujuan untuk menjaga hubungan manusia sebagai hamba dengan Allah sebagai pencipta dalam menjalankan amanah sebagai khalifah. Muamalah berperan sebagai rule of game dalam tatanan sosial antar manusia.

Keuniversalan syariat Islam terlihat jelas dalam konsep muamalah. Dimana ia bukan saja luas dan fleksibel. Dalam konsep muamalah, hak dan kewajiban antara muslim dengan non muslim tidak memiliki perbedaan. Kenyataan ini tersirat dalam suatu ungkapan yang diriwayatkan oleh Sayyidina Ali yang artinya : “dalam bidang muamalah kewajiban mereka adalah kewajiban kita dan hak mereka adalah hak kita.”

Sikap dan pandangan ini berjalan dengan baik sebab keberadaan thawabit wa mutaqoyyirat (prinsip dan variabel) dalam Islam. Misalnya dalam ekonomi, berdasarkan Al-quran dan Hadis, terdapat beberapa larangan dan perintah yang menjadi prinsip (thawabit) seorang muslim seperti; Islam melarang memakan riba, anjuran menggunakan prinsip bagi hasil, pengenaaan zakat, dan lain sebagainya.

Untuk menjalankan prinsip-prinsip ini digunakan variabel (mutaqoyyirat) seperti mudharabah, musyarakah, dan lain sebagainya. Para cendikiawan Muslim di setiap zaman dituntut untuk dapat melakukan inovasi dan pengembangan thawabit wa mutaqoyyirat sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks. Pun demikian lembaga keuangan syariah yang memiliki dasar falsafah mencari keridhoan Allah SWT di dunia dan akhirat harus dapat menjauhkan diri dari unsur riba dan menerapkan sistem bagi hasil dan perdagangan dalam sistem operasional yang akan dijalankan.

Keraguaan terhadap “ke-syariah-an” bank syariah bisa disebabkan pengetahuan awam yang kurang tepat terhadap bank syariah atau mungkin faktor lain yang berasal dari bank syariah itu sendiri.

Sejak awal lahirnya bank syariah, banyak penelitian yang menemukan kekeliruan terhadap produk maupun operasional bank syariah. Namun demikian, justru masyarakat tidak sepatutnya berpaling dari bank syariah, diperlukan kontrol dan tuntunan yang baik agar bank yang diharapkan seratus persen syariah dapat terwujud. Allahu a’lam.

Penulis: Wandisyah R Hutagalung (Dosen Muda IAIN Padangsidimpuan)

Latest news

Related news

- Advertisement -