28.1 C
Jakarta
Senin, 20 September 2021
BerandaKesehatanPeringati Hari Santri, Menag Minta Pesantren Jangan Jadi Klaster Covid-19

Peringati Hari Santri, Menag Minta Pesantren Jangan Jadi Klaster Covid-19

- Advertisement -

Jakarta, IndoChannel.id – Menteri Agama Fachrul Razi meminta pondok pesantren untuk meningkatkan penerapan protokol kesehatan dan kewaspadaan terhadap serangan virus corona. pasalnya pondok pesantren menjadi salah satu titik rawan penyebaran covid-19.

“Pesantren adalah entitas yang sangat rentan persebaran Covid-19. Maka kewaspadaan harus selalu ditingkatkan,” demikian bunyi teks pidato Menag yang dibacakan oleh Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi di malam puncak peringatan hari santri 2020, di gedung HM Rasjidi, Kementerian Agama Jl. HM Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu malam (21/10/2020).

- Advertisement -

Dalam peringatan Hari Santri yang mengambil tema “Santri Sehat Indonesia Kuat” dihadiri oleh Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Masdar Faris Mas’udi, Ketua Komisi VIII DPR RI Yandri Susanto, dan para undangan yang diatur dengan protokol kesehatan ketat dan rapid test.

Menurut Menag, keterbatasan fasilitas dan sarana kesehatan adalah titik lemah yang dapat menjadi pintu masuk penularan virus ini di pesantren. Pola interaksi dan komunikasi yang intens di dalam pesantren juga menjadi kebiasaan yang tidak menguntungkan bagi pertahanan terhadap wabah ini.

“Saya yakin, jika santri dan keluarga besar pesantren mampu melampaui pandemi ini dengan baik, insyaallah negara kita juga akan sehat dan kuat,” ungkapnya.

Untuk membantu pesantren meningkatkan layanan kesehatan, Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren telah menggelontorkan bantuan operasional pesantren sebesar Rp 2,4 triliun.

Angka ini memang belum sebanding dengan jumlah pesantren yang mencapai 28.900 di seluruh Indonesia. Kemenag berharap bantuan ini dapat meringankan beban pesantren.

Kemenag juga mengapresiasi beberapa pesantren yang berhasil melakukan upaya pencegahan, pengendalian, dan penanganan dampak pandemi di lingkungannya. Itu menjadi bukti nyata bahwa pesantren memiliki daya tahan di tengah berbagai keterbatasan fasilitas yang ada.

Modal utamanya adalah tradisi kedisiplinan yang selama ini diajarkan kepada para santri, keteladanan dan sikap kehati-hatian kiai.

Terkait dengan peringatan hari santri yang digelar di tengah pandemi ini, Menag menyampaikan penghargaan kepada para kiai dan santri pondok pesantren atas jasa-jasanya memperjuangkan kemerdekaan dan membangun bangsa ini. “Jangan pernah lelah untuk berkontribusi untuk negeri ini. Saya percaya, selama santri pondok pesantren terus berdedikasi demi bangsa, selama itu pula negara tercinta ini akan aman dan sentosa,” tutupnya.

Untuk diketahui, 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri, hal ini mengacu pada Keputusan presiden nomor 22 tahun 2015 tentang Hari Santri.

Penetapan tanggal 22 Oktober berdasarkan peristiwa besar yang dikenal dengan “Resolusi Jihad” dari Pesantren Tebu Ireng, Jombang pada 22 Oktober 1945, yang berisi fatwa perlawanan melawan penjajah Belanda demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Resolusi inilah yang memicu peristiwa konfrontasi heroik tanggal 10 November 1945 yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan. (FSN)

Latest news

Related news

- Advertisement -