32 C
Jakarta
Selasa, 21 September 2021
BerandaKesehatanHukum Dunia Berawal dari Sejarah Iblis menolak Sujud Kepada Nabi Adam

Hukum Dunia Berawal dari Sejarah Iblis menolak Sujud Kepada Nabi Adam

- Advertisement -

Bandung, IndoChannel.id – Sikap Iblis yang menolak perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Nabi Adam AS sebagai khalifah menjadi peristiwa hukum pertama yang membuat aktivitas dunia di mulai.  Penolakan iblis menjadi awal kompleksitasnya kehidupan dunia karena melanggar hukum atau perintah Allah.

Sikap sombong iblis yang merasa lebih mulia dari pada Nabi adam yang hanya terbuat dari saripati tanah diabadikan Al quran surat Al-Baqarah Ayat 34 merupakan peristiwa hukum yang menyebabkan iblis divonis Allah SWT diusir dari surga.

- Advertisement -

“Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat. “Sujudlah kamu kepada Adam! maka mereka pun sujud kecuali iblis, ia menolak dan menyombongkan diri dan ia termasuk golongan yang kafir.”

Setelah mengusir Iblis dari surga, Allah menetapkan hukum atau perintah kepada Nabi Adam dan istrinya Siti Hawa tinggal di dalam surga dengan syarat dilarang mendekati satu pohon bernama khuldi. Mendekatinya saja sudah dilarang apalagi memakan-makanan yang dikeluarkan dari poho tersebut.

Ketetapan Allah agar Nabi Adam tinggal di surga serta melarang mendekati pohon khuldi diabadikan dalam ayat 35 Al-Baqarah. Namun, bujuk rayu iblis, membuat Adam melanggar hukum dan Allah menjatuhkan vonis kepada Adam dan istrinya keluar dari surga. Allah menurunkan Adam dan istrinya Siti Hawa ke bumi secara terpisah.

Peristiwa Nabi Adam dan Siti Hawa divonis Allah keluar dari surga diabadikan di dalam ayat 36 Al-Baqarah. ” Turun lah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.”

Dalam Ayat 38 Surat Al-Baqarah, Allah menegaskan hanya orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya tidak akan bisa terpedaya oleh bujuk rayuan Iblis ketika.

“Kami berfirman turunlah kamu! semua dari surga, kemudian jika benar-benar datang petunjuk kepadamu, maka barang siapa mengikuti petunjuk Ku tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”

Berbeda dengan Iblis ketika dikeluar Allah dari surga, Iblis mengancam kepada Allah akan menyesatkan anak cucu Adam. Sementara Adam bertaubat meminta ampun kepada Allah seperti diabadikan dalam surat Al-Araf ayat 23.

“Ya Allah, kami telah menganiaya diri kami sendiri,dan jika Kau tidak mengampuni kami serta memberi rahmat pada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi,”

Sementara ancaman Iblis tersebut diabadikan di Ayat 16-17 Surat Al A’raf.

“Iblis menjawab, Karena Engkau telah menghukumku tersesat, maka saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.”

Sebelum terjadi perisitwa hukum di atas. Telah terjadi peristiwa hukum sebelumnya dan membuat Iblis sebutan Azazil merupakan penghulu malaikat selama 120 tahun itu mendapat semua gelar kehormatan di semua lapis langit.

Langit pertama Iblis dijuluki ahli ibadah, di langit lapis kedua iblis dijuluki ahli rukuk, di langit lapis ketiga Iblis dijuluki ahli sujud, di langit lapis keempat Iblis dijuluki selalu merendah dan takut kepada Allah,

Di langit lapis kelima Iblis dijuluki ahli taat, di langit lapis keenam Iblis dijuluki Mujtahid karena sunggu-sungguh kepada Allah dalam beribadah dan di lapis ketuju Iblis dijuluki Zaahid karena kesederhanannya. Namun julukan itu hangus semua dalam peristiwa hukum seperti diabadikan dalam surat Al-Baqarah ayat 34 sampai 36.

Peristiwa hukum selanjutnya terjadi setelah Istri Nabi Adam Siti Hawa melahirkan keturunan kembar. Peristiwa hukum pertama pada masa ini adalah ketika Allah menetapkan syariat aturan bagi anak-anak Adam dan Hawa yang sudah dewasa itu anak pertama harus kawin dengan Labuda adik Habil sedangkan Habil harus kawin dengan Iqlima adik Qabil. Jadi Qabil maupun Habil tidak boleh kawin dengan adik kembarnya sendiri.

Syariat itu diwahyukan Allah kepada Adam ada menyampaikan wahyu itu kepada istri dan anak-anaknya yang sudah berhasrat kawin syariat ini diterima dengan segala ketaatan dan kepatuhan oleh Adam Hawa dan anak-anaknya. Hanya Qabil seorang yang tidak mau tunduk terhadap Syariat yang ditetapkan Allah itu.

Di sinilah seperti diceritakan dalam buku Rangkaian Cerita Alquran kisah nyata peneguh Iman yang ditulis H. Bey Arifin bahwa iblis mendapat peluang yang baik sekali dengan perantara perasaan birahi dan nafsu antara laki dan perempuan. Iblis membisikan Qabil bahwa Iqlima adik  adik Qabil lebih cantik dari Labuda adik Habil.

Iblis pun berkata kepada Qabil “Janganlah kamu mau tunduk kepada penetapan bapakmu yang tidak adil itu, adikmu sendiri jauh lebih cantik daripada adik Habil, kenapa bapakmu menyuruh kamu kawin dengan adik Habil yang tidak cantik, sedangkan adikmu yang cantik itu diberikan kepada Habil untuk menjadi istrinya.”

Dengan bujukan iblis ini, muncullah nafsu Qabil yang tidak mau menurut putusan dengan segala macam alasannya. Kecantikan seorang perempuan telah dapat dipergunakan oleh iblis untuk menimbulkan pertikaian antara ke dua orang laki-laki yang bersaudara kandung itu. Hal ini bukan hanya terjadi pada anak-anak Adam dan Hawa dahulu kala, tetapi juga masih terjadi pada keturunan Adam dan Hawa yang hidup di abad modern sekarang ini.

Singkat cerita Iblis segera datang berbisik ke telinga Qabil. “Hai Qabil janganlah lekas putus asa ada satu cara yang sangat mudah untuk mengatasi jalan buntu antara engkau dengan adikmu Habil. Untuk menyampaikan hasrat hatimu kawin dengan Iqlima adikmu yang cantik itu, jalan satu-satunya adalah kamu bunuh saja adikmu yang bernama Habil itu.”

Mula-mula Qabil agak ragu terhadap cara penyelesaian yang dianjurkan iblis dan membuat Qabil termenung. Saat asik termenung iblis datang kembali dengan anjuran yang lebih tegas

“Bunuh saja, hantam saja, jangan pikir panjang lagi,” kata Iblis.

Melihat perubahan sikap yang berbeda-beda Adam dan Hawa memberikan nasehat kepada Qabil. “Janganlah engkau terturunkan ajakan setan dan iblis tunduklah kepada syariat yang ditetapkan Allah yang telah disetujui oleh ibu Bapakmu sendiri.” kata Adam.

Namun nasehat keluarga tidak Qabil hiraukan. Karena setan telah marasuk kuat di dalamnya jiwanya. Qabil malah menjadi semakin galak dan garang dan segera mendekati adiknya yang masih memberi nasihat dan berkata.

“Engkau jangan banyak bicara. Engkau pasti saya bunuh,”

Dengan heran dan sabar Habil menjawab. “Kenapa aku akan kau bunuh?”

“Karena Bapak dan Allah lebih suka kepadamu,” jawab Qabil.

“Dengan membunuh saya keadaan tidak akan berubah. Bapak dan Allah akan semakin marah terhadap engkau,” jawab Habil.

“Tak peduli engkau pasti kubunuh agar senang hatiku,” kata Qabil dengan garangnya.

Akhirnya Qabil membunuh Habil. Disinilah peristiwa hukum pertama pembunuhan yang terjadi di dunia. Peristiwa hukum ini masih terjadi sampai sekarang. Awalnya dari peristiwa hukum sederhana Iblis menolak perintah Allah bersujud kepada Nabi Adam.

Prof. Dr.H Zainuddin Ali.MA dalam bukunya Pengantar Ilmu Hukum mengatakan, peristiwa hukum adalah setiap pergaulan hidup sosial kemasyarakatan yang membawa akibat yang diatur oleh hukum. Peristiwa hukum dimaksud baik yang menimbulkan hak maupun yang menimbulkan hak dan kewajiban.

“Karena itu perbuatan subyek hukum baik manusia maupun badan hukum dan peristiwa lain yang bukan perbuatan hukum sehingga dapat disebut perbuatan hukum dan perbuatan lain yang bukan perbuatan hukum,” katanya dalam bukunya hlm 66.

Sementara itu menurut R. Soeroso dalam bukunya Pengantar Ilmu Hukum peristiwa hukum adalah merupakan suatu rechtsfeit atau suatu kejadian hukum. Suatu kejadian biasa dalam kehidupan sehari-hari yang akibatnya diatur oleh hukum.

Perbuatan dan tingkah laku subjek hukum yang membawa akibat hukum, karena hukum mempunyai kekuatan mengikat bagi subjek hukum atau karena subjek hukum itu terikat oleh kekuatan hukum.

“Peristiwa di dalam masyarakat yang akibatnya diatur oleh hukum. Tidak semua peristiwa mempunyai akibat hukum, jadi tidak semua peristiwa adalah peristiwa hukum,” katanya di dalam halaman 251.

Penulis : Yosep

Latest news

Related news

- Advertisement -