26 C
Jakarta
Sabtu, 4 Desember 2021
BerandaFinanceBuruh Tuntut Kenaikan UMP Tahun 2022 Sebesar 7-10 Persen

Buruh Tuntut Kenaikan UMP Tahun 2022 Sebesar 7-10 Persen

- Advertisement -

Jakarta, IndoChannel.id – Pemerintah masih belum mengumumkan Upah Minimum Provinsi (UMP) tahun 2022. Namun, para buruh terus menuntut kenaikan UMP 2022 sebesar 7-10%.

Presiden KSPI Said Iqbal mengatakan besaran kenaikan yang diminta oleh buruh ini berdasarkan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI).

- Advertisement -

“Berdasarkan hasil survei yang dilakukan KSPI di 10 provinsi, di mana di tiap provinsi dilakukan survei di 5 pasar tradisional dengan menggunakan parameter 60 item Kebutuhan Hidup Layak (KHL) sesuai UU No 13 Tahun 2003, didapatlah rata-rata kenaikan UMK/UMP adalah 7%-10%,” katanya, Rabu (10/11/2021).

KSPI menggunakan UU No 13 Tahun 2003, hal ini dilakukan karena saat ini buruh sedang menggugat UU Cipta Kerja di Mahkamah Konstitusi. Karena judicial review UU Cipta Kerja belum incrah, maka Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah yang lama masih berlaku.

“Bahkan jika menggunakan PP No 78 Tahun 2015, maka kenaikan upah minimum adalah berkisar 6 persen. Hampir sama angka kenaikannya dengan mengacu pada KHL,” sambungnya.

Menurut KSPI, post covid 19 maka daya beli atau purchasing power masyarakat dan buruh harus dikembalikan seperti awal, dengan dinaikkan upah minimumnya minimal 7%. Hal ini dilakukan agar konsumsi naik, sehingga otomatis pertumbuhan ekonomi ikut naik.

Iqbal juga menyebut, bagi perusahaan yang terdampak krisis ekonomi dan Covid 19, maka tidak perlu menaikkan UMP atau UMK 2022 yang dibuktikan dengan audit laporan keuangan perusahaan yang mengalami kerugian dalam 2 tahun terakhir yang diserahkan ke Disnaker dan diumumkan ke buruh.

“Bila pemerintah dan pengusaha tidak mempertimbangkan usulan buruh ini, maka akan ada aksi yang lebih luas dan lebih besar secara terus menerus,” tegasnya.

Latest news

Related news

- Advertisement -